Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Not Angka Lagu Bumi Lampung

Not angka lagu Bumi Lampung dan chord lagu Bumi Lampung yang diposting di sini. Selain itu ada audio / video lagu tersebut untuk mendengar melodi lagunya.

Bumi Lampung adalah judul lagu daerah Lampung, diciptakan oleh H. Raja Sangun. Lagu ini menceritakan tentang daerah Lampung yang memiliki kekayaan alam seperti rempah-rempah. Selain itu menceritakan Lampung memiliki keindahan alam.

Baiklah kita lihat not angka lagu tersebut.

Klik gambarnya untuk memperbesar.


not angka bumi lampung lagu daerah lampung


Jika ingin mendengar melodi lagu Bumi Lampung, silakan putar audio/video di bawah ini.




Bumi Lampung   dalam notasi balok di atas  menggunakan nada dasar C. Bagi anda yang  ingin belajar not balok dengan nada dasar C, tinggal melihat posisi not balok dan  not angka di atas. Kalau kurang jelas, silakan bertanya di kotak komentar.

Lampung sebenarnya memiliki cukup banyak lagu daerah. Namun lagu-lagu daerah di sana tidak dipublikasikan dengan luas. Sehingga  orang luar tidak tahu lagu  daerah mereka. Salah satu lagu dari sana yang terkenal adalah Pang Lipang Dang.

Bagi anda yang membutuhkan partitur lagu Bumi Lampung, silakan tulis pada formulir kontak. Saya akan kirim melalui email secepatnya. 

Semoga postingan ini bermanfaat.


Tag.

Not angka lagu Bumi Lampung C = Do, not angka lagu Bumi Lampung pianika, not angka lagu Bumi Lampung recorder, not balok lagu Bumi Lampung, chord lagu Bumi Lampung, lirik lagu Bumi Lampung.


Tulisan di bawah hanya sebagai tambahan, sumber : wikipedia.

Provinsi Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung merupakan keresidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatra Selatan.

Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 Maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatra Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khazanah adat budaya di Nusantara. Oleh karenanya, pada zaman VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda.

Lampung pernah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Sebelum akhirnya Kesultanan Banten menghancurkan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Sultan Banten yakni Hasanuddin, lalu mengambil alih kekuasaan atas Lampung. Hal ini dijelaskan dalam buku The Sultanate of Banten karya Claude Guillot pada halaman 19 sebagai berikut:

"From the beginning it was abviously Hasanuddin's intention to revive the fortunes of the ancient kingdom of Pajajaran for his own benefit. One of his earliest decisions was to travel to southern Sumatra, which in all likelihood already belonged to Pajajaran, and from which came bulk of the pepper sold in the Sundanese region".[7]

Di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683) Banten berhasil menjadi pusat perdagangan yang dapat menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatra dan Maluku. Dalam masa pemerintahannya, Sultan Ageng berupaya meluaskan wilayah kekuasaan Banten yang terus mendapat hambatan karena dihalangi VOC yang bercokol di Batavia. VOC yang tidak suka dengan perkembangan Kesultanan Banten mencoba berbagai cara untuk menguasainya termasuk mencoba membujuk Sultan Haji, Putra Sultan Ageng untuk melawan Ayahnya sendiri.

Dalam perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta bantuan VOC dan sebagai imbalannya ia menjanjikan akan menyerahkan penguasaan atas daerah Lampung kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 7 April 1682 Sultan Ageng Tirtayasa disingkirkan dan Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten.

Dari perundingan-perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas daerah Lampung diserahkan oleh Sultan Banten kepada VOC yang sekaligus memperoleh monopoli perdagangan di daerah Lampung.

Pada tanggal 29 Agustus 1682 iring-iringan armada VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. Armada ini dipimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat dari Sultan Haji yang mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang pertama ini tidak berhasil dan ia tidak mendapatkan lada yang dicarinya. Perdagangan langsung antara VOC dengan Lampung mengalami kegagalan disebabkan karena tidak semua penguasa di Lampung langsung tunduk begitu saja kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni, sebagian mereka masih mengakui Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggap kompeni tetap sebagai musuh.

Posting Komentar untuk "Not Angka Lagu Bumi Lampung"